Efektivitas Penyembuhan dari Berlatih Meditasi

adilnews | 26 April 2024, 10:22 am | 215 views

Dalam beberapa tahun terakhir ini, meditasi telah menjadi gaya hidup sehat. Orang memahami meditasi sebagai bentuk aktivitas memusatkan dan menjernihkan pikiran, yang bertujuan untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan. Banyak orang menganggap meditasi merupakan cara untuk mengurangi stres dan mengembangkan konsentrasi. Lebih dari itu, meditasi memiliki banyak manfaat yang dapat menunjang kesehatan fisik dan mental.

Tahun lalu, artikel di website National Library of Medicine AS membahas tentang kekuatan meditasi dan manfaatnya bagi tubuh. Pencitraan resonansi magnetik (MRI) telah menunjukkan dengan meditasi banyak perubahan positif pada otak dan meningkatkan beberapa fungsi otak. Meditasi juga memiliki beberapa manfaat, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan proses inflamasi dengan menurunkan sitokin; pemendekan telomer yang tepat juga telah membantu penuaan yang sehat.

Mengenai kesehatan fisik, meditasi bermanfaat dalam berbagai penyakit multifaktorial seperti diabetes, hipertensi, dan fibromyalgia. Ini juga membantu menurunkan kadar kolesterol darah dan meningkatkan kadar lipoprotein densitas tinggi (HDL). Perbaikan juga terlihat pada tekanan darah sistolik dan diastolik.

Kesehatan mental adalah aspek lain yang dipengaruhi oleh meditasi, karena emosi positif yang ditimbulkan oleh meditasi membantu mengatasi berbagai masalah mental seperti gangguan kecemasan sosial, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), kecemasan, dan depresi. Secara keseluruhan, hal ini tampaknya berdampak pada semua bidang kesehatan.

Salah satu meditasi yang saat ini sedang berkembang luas di seluruh dunia adalah Falun Gong (Falun Dafa). Meditasi ini diperkenalkan oleh Master Li Hongzhi di Tiongkok pada 1992. Falun Gong merupakan latihan kultivasi (pengolahan) ganda jiwa dan raga. Latihan raga terdiri dari lima perangkat gerakan lembut yang menyerupai senam, dan juga meditasi. Latihan gerakan tersebut berfungsi mengolah potensi tubuh, membangkitkan energi dalam tubuh dan menyerap energi alam semesta, juga untuk memperkuat sistem mekanisme energi yang kuat di sekujur tubuh.

Berbeda dengan meditasi umumnya, hal lain yang berbeda dari meditasi Falun Gong adalah pentingnya berkultivasi jiwa. Tujuannya untuk meningkatkan Xinxing (watak, kualitas moral), dengan jalan menyelaraskan diri dengan karakteristik alam semesta yakni: Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar). Pengertian kata “Sejati” adalah benar, lurus dan jujur; “Baik” adalah kebajikan, suka menolong, tidak mementingkan diri sendiri; “Sabar” adalah penuh toleransi, meringankan beban pikiran, pengendalian emosi, tahan uji serta mampu melepaskan berbagai macam keterikatan hati.

Itu berarti menuntut praktisinya untuk terus menerus meningkatkan standar moral di dalam kehidupan sehari-hari, dan harus dengan kondisi ini mematut tingkah lakunya, di dalam keluarga, di tempat kerja, dalam masyarakat, harus menjadi seseorang yang bermoral tinggi serta bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan kewajibannya.

Bagi praktisi Falun Gong yang sejati dengan berlatih kultivasi ini kesehatan tubuhnya dalam waktu singkat akan mencapai kondisi yang sangat prima. Sejumlah penelitian pernah dilakukan yang menunjukan efektivitas penyembuhan dari latihan meditasi ini. Pada 1997, sekelompok ilmuwan dan dokter dari sejumlah rumah sakit di Beijing meneliti 12.731 peserta latihan Falun Dafa, sebelumnya 49.8 persen dari mereka mengidap tiga macam penyakit serius. Setelah berlatih efektivitas kesembuhan penyakit mencapai 99.1 persen, dan 58.5 persen sembuh total.

Hasil penelitian pada 2000 di Department Immunology The Scripps Research Institute Amerika Serikat juga membuktikan bahwa sel darah putih (mekanisme penangkal penyakit pada tubuh) praktisi Falun Gong lebih unggul dan masa hidupnya lebih panjang dibandingkan yang tidak berlatih. Menurut Prof. Luo Guo Hua dari Departemen Biofisik dan Psikologi Universitas California, saat berlatih Falun Dafa, akan timbul sebuah medan energi di sekeliling tubuh (dibuktikan dengan Kirlian Photography). Medan itu dapat mengoreksi segala keadaan yang tidak benar.

Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Quan-Zhen Li dari Microarray Core, Center for Immunology, University of Texas Southwestern Medical Center, Dallas pada 2005 tentang profil genom transkrip neutrofil pada praktisi Falun Gong Asia: studi percontohan dalam regulasi gen melalui interaksi pikiran-tubuh. Hasilnya terjadi perubahan dalam ekspresi gen praktisi Falun Gong yang berbeda dengan kontrol normal yang sehat, ditandai dengan peningkatan imunitas, penurunan aturan metabolisme sel, dan perubahan gen apoptosis yang mendukung resolusi peradangan yang cepat. Umur neutrofil normal juga diperpanjang. Jadi latihan ini dapat mengatur kekebalan, laju metabolisme, dan kematian sel.

Dari hasil penelitian tersebut, kita bisa tahu efektivitas penyembuhan dengan berlatih Falun Gong.Tak heran jika orang yang berlatih meditasi ini, mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya yang kronis. Bahkan mereka yang sebelumnya hidupnya sangat bergantung pada obat-obatan bisa meninggalkannya, dan tidak minum obat lagi.

Masalah minum obat tentu saja bagi praktisi Falun Gong yang tekun berlatih kultivasi jiwa dan raga menjadi tidak begitu penting. Karena dalam proses berkultivasi, tubuhnya telah dimurnikan dan diselaraskan dengan karakter alam semesta Sejati, Baik, Sabar sehingga berbagai penyakit akan tersingkir dengan sendirinya. Tubuh akan mendapatkan vitalitas energi. Bukankah pada tahun 1998, Tiongkok pernah mengadakan sensus yang menunjukan latihan Falun Gong dapat menghemat anggaran kesehatan negara sebesar 30% atau 3.270 Yuan per orang per tahun. Saat itu, latihan Falun Dafa dirasa memberi manfaat kesehatan secara luas bagi masyarakat.

Dalam berlatih Falun Gong, sebenarnya kesembuhan dari penyakit itu bukan tujuan utama, itu hanya efek penyelarasan tubuh dari latihan ini. Tujuan praktisi latihan kultivasi jiwa dan raga ini adalah untuk mengolah energi tinggi alam semesta dalam tubuhnya, serta meningkatkan diri secara moral dan spiritual sehingga bisa kembali ke asal menemukan jati dirinya. (Rismawati)

Berita Terkait