Para Musisi Bela Palestina, Tuntut Pertanggungjawaban PBB dan AS

adilnews | 19 April 2024, 11:46 am | 119 views

Oleh: Ony YFC Prima/ Adil News

Jakarta- Koalisi Musisi untuk Gaza yang didukung oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat dan negara lainnya yang mendukung genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina untuk segera menghormati dan mematuhi segala resolusi untuk gencatan senjata agar dapat segera mengadili genosida dan menyelesaikan penderitaan yang dirasakan oleh warga Palestina dan meminimalisir risiko terjadinya eskalasi konflik yang bisa berakibat terjadinya Perang Dunia III.

PBB dan AS juga dimintai pertanggungjawabannya sesuai dengan Konvensi Anti-Genosida Internasional dan Konvensi Jenewa terkait dengan korban jiwa masyarakat sipil sebanyak lebih dari 33 ribu orang dengan mayoritas anak dan perempuan selama 6 bulan terakhir. Selain itu, mereka juga meminta PBB dan AS bertanggung jawab atas jejak residu perang yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, krisis iklm dan mengakibatkan ancaman keberlangsungan hidup warga Palestina dan dunia pasca konflik untuk generasi mendatang.

Demikian tuntutan aksi massa yang digelar oleh Koalisi Musisi untuk Gaza yang didukung oleh Kontras di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Merdeka Selatan Jakarta Pusat pada Jumat (19/04/2024). Puluhan aktivis hingga musisi turut hadir dalam aksi solidaritas terhadap Palestina tersebut.

Salah satu yang hadir dalam aksi bertajuk “Koalisi Musisi untuk Gaza” yakni aktivis HAM, Fatia Maulidiyanti. Dalam orasinya, Fatia menganggap kondisi yang terjadi di Palestina saat ini sebagai bentuk kegagalan para pemimpin bangsa di dunia untuk menciptakan perdamaian.

Dalam pernyataan sikapnya yang diterima ADILnews, mereka ingin berkontribusi atas kekhawatirannya terhadap situasi yang terjadi di Palestina hari ini. Sejak bulan Oktober 2023 lalu, baik PBB maupun pemimpin negara-negara masih tidak mampu untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dan mengentaskan genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina, dimana konflik ini telah terjadi lebih dari 50 tahun.

“Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang paling berpengaruh di Dewan Keamanan PBB memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap lemahnya implementasi hukum humaniter yang semestinya dapat dilakukan pada konflik Israel-Palestina ini. Konvensi Jenewa yang seharusnya menjadi hukum yang dapat diterapkan seakan-akan hanya menjadi hukum di atas kertas yang tidak memiliki nyawa untuk memutus rangkaian genosida yang dilakukan oleh Israel dengan didukung oleh beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Britania Raya dan lainnya,” jelas Koalisi Musisi untuk Gaza.

ko

Menurut mereka, konflik ini tidak hanya memperburuk situasi perdamaian dunia dan menjatuhkan segala upaya para pendiri PBB dalam membuat berbagai aturan-aturan yang mengikat bagi negara anggota untuk melindungi, menghormati dan memenuhi hak asasi manusia, termasuk kepatuhan terhadap hukum internasional yang pada akhirnya diinjak-injak oleh para pemimpin negara dan membiarkan genosida terus berlanjut di Palestina. “Ribuan anak, perempuan dan warga sipil lainnya terus menjadi korban, dan hingga saat ini tidak ada Langkah konkret selain Mahkamah Internasional yang diinisiasi oleh Afrika Selatan untuk mengadili Israel. Hal ini tentu saja menjadi sebuah ancaman serius bagi generasi mendatang, dengan adanya ancaman perang dan eskalasi konflik yang dapat menimbulkan terjadinya Perang Dunia Ketiga apabila Amerika Serikat terus memberikan bantuan terhadap Israel dan memblokade seluruh upaya untuk menghentikan genosida di Palestina pada forum-forum PBB,” lanjutnya.

Selain ancaman eskalasi konflik yang tentu berbahaya bagi generasi-generasi penerus, mereka juga mengkuatirkan konflik ini sangat berpotensi pada krisis ekonomi global yang mengakibatkan lapisan konflik lain akan terjadi dan memperburuk stabilitas perekonomian dunia, memperburuk kerjasama antar negara dan juga bagaimana hal ini berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap situasi ekonomi makro maupun mikro di seluruh dunia. Negara-negara di sekitar area konflik juga akan memperbesar prioritasnya untuk memperbanyak anggaran untuk keamanan nasional, sedangkan kebutuhan masyarakat pada akhirnya tidak menjadi prioritas padahal situasi ekonomi masyarakat di negara-negara dunia selatan juga masih dibelenggu dengan berbagai situasi kerentanan ekonomi dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan.

Residu dari perang ini juga bisa berpengaruh terhadap polusi udara, lingkungan dan tanah yang pada akhirnya berdampak pada kelestarian lingkungan. Hak warga untuk lingkungan yang bersih dan sehat. Hal ini tentu berpengaruh pada krisis iklim yang sedang marak terjadi hari ini, akses atas air bersih dan juga tanah untuk dipergunakan sebagai ladang untuk ketahanan pangan.

“Jika perang ini tidak segera dituntaskan dan dihasilkan sebuah upaya untuk mengadili Israel beserta kroni-kroninya, maka nasib generasi muda ke depan akan hidup terbelenggu pada situasi perubahan iklim yang buruk yang salah satunya diperburuk karena residu-residu perang tersebut,” tandas mereka.

Koalisi Musisi Untuk Gaza beranggota para musisi dan kelompok musik yang menaruh perhatian pada isu Palestina. Sejumlah musisi dan kelompok band yang bergabung antara lain: Eka Rahyadi Annash, Adhito Nugroho, Ananda Badudu, The Brandals, The Panturas, The Jansen, The Safari, Dongker , Swellow, Seringai, Indische Party, Straight Answers, Efek Rumah Kaca, Humanimal,Tashoora, Kelompok Penerbang Roket, Godplant, Melanie Subono, Rebecca Reijman , Bella Fawzi, Chikita Fawzi, Siksa Kubur, Mouthless dan sebagainya.*****

Berita Terkait