BUNUH DIRI DEMOKRASI

adilnews | 25 April 2024, 08:29 am | 76 views

Oleh: BP Jatmiko

“Remember, democracy never lasts long. It soon wastes, exhausts, and murders itself. There never was democracy yet that did not commit suicide”.

Pesan yang menyuarakan ancaman terhadap runtuhnya demokrasi ini dikibarkan oleh John Adams. Dalam suratnya kepada John Taylor, Presiden Amerika Serikat kedua ini mengingatkan bahwa demokrasi akan dibunuh oleh ‘anak-anaknya’ sendiri.

Tengok saja bagaimana sejumlah negara telah merasakan kebenaran nubuat John Adams tersebut. Demokrasi dibunuh satu-persatu oleh orang-orang yang justru bisa muncul ke permukaan dan menggenggam jabatan karena kehadiran demokrasi itu sendiri.

Kekhawatiran Johns Adams akan bunuh diri demokrasi ini terasa relevan untuk didendangkan kembali di tengah riuhnya frasa ‘RIP Demokrasi’ di jagad dunia maya. Frasa tersebut menjadi trending topik di platform X yang dahulu bernama Twitter.

‘RIP Demokrasi’ bergema bertalu-talu sejak pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan perselisihan hasil pemilihan umum. MK – dengan tiga hakim dessenting opinion – memutuskan menolak seluruh gugatan yang diajukan kubu 01 dan 03.

Menanggapi putusan tersebut, warganet pun mencuitkan frasa ‘RIP Demokrasi’ untuk menyuarakan kegundahannya. Banyak pihak berduka karena Pilpres 2024 ini diwarnai oleh berbagai persoalan yang melanggar etika.

Sejak dari tahap pencalonan, kampanye, hingga pencoblosan dan penghitungan suara, terdapat banyak ketimpangan yang dinilai mengangkangi demokrasi. Tak heran jika skenario Pilpres ini membuat tak sedikit orang yang meyebut demokrasi di Indonesia telah mati di tangan tukang jagal.

Di sisi lain, mereka yang berdiri di kutub seberang membela dengan dalih argumentum ad populum. Ini adalah sebuah logical fallacy atau kesesatan pikir dimana jumlah pemilih yang banyak dianggap sebagai suara kebenaran.

Demi Argumentum ad populum orang pun lantas menghalalkan berbagai cara ala Machiavelli, dari intimidasi hingga manipulasi. Termasuk penggunaan bansos.

Suara rakyat memang suara Tuhan sebagaimana adagium vox populi vox dei. Namum jika itu difabrikasi melalui intimidasi dan manipulasi, masihkan kita menganggapnya sebagai suara Tuhan?

* * * * *

Tak mudah memang menafikan nubuat John Adams. Namun persoalannya, bunuh diri demokrasi terlalu cepat terjadi di negeri ini. Hanya sempat bersemi 26 tahun.

Itulah sebabnya dalam ‘The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad’, Fareed Zakaria mengkritik ekspor atau pemaksaan demokrasi ke berbagai negara dunia ketiga. Sebab negara-negara tersebut tidak siap dan infrastruktur demokrasinya belum terbangun dengan baik.

Dengan segala ketidaksiapan yang ada, terutama kualitas manusianya, demokrasi hanya akan menciptakan apa yang disebut Fareed Zakaria sebagai illiberal democracy, yang pada titik tertentu hanya akan memicu kegaduhan dan kegundahan. Sebab demokrasi ini hanya bersifat prosedural belaka, tanpa nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Dalam illiberal democracy ala Fareed Zakaria tersebut, pemilu memang dilaksanakan. Namun tak ada lagi nilai-nilai demokrasi yang luber dan jurdil

Dan sialnya, apa yang dikatakan Fareed Zakaria itu terjadi pada kita. Itulah yang membuat frasa ‘RIP Demokrasi’ menjalar kemana-mana.

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab tentunya, mengapa bunuh diri demokrasi terjadi. Jawabannya bisa datang dari berbagai ahli.

Namun tak keliru jika mendengar pandangan mantan Perdana Menteri Afrika Selatan, Jan Christian Smuts. Menurutnya, dalam sebuah pertarungan demokrasi kita kerap dikalahkan oleh diri kita sendiri, bukan oleh musuh. Terutama karena hasrat kita yang begitu besar akan kekuasaan.

Bagi mereka yang silau akan glamoritas kekuasaan, demokrasi memang hanya dianggap sebagai pupur untuk bersolek diri. Oleh sebab itulah menurut John Adams, demokrasi menjadi tidak tahan lama karena mudah luntur oleh keringat nafsu kekuasaan yang membara.

Sialnya lagi, hal ini ditopang oleh para punakawan yang kurang lebih memiliki passion yang sama. Dengan menafikan akal sehat dan etika, yang terjadi hanyalah apa yang disebut Julien Benda sebagai La Trahison des Cleres, pengkhianatan kaum intelektual.

* * * * *

Di balik segala kedukaan yang ada, kita tentu berharap demokrasi tak mati selamanya di negeri ini. Masih ada kekuatan moral serta gerakan sosial yang masih berkobar di tengah keredupan demokrasi.

Salah satunya datang dari sikap ksatria dari mereka yang kalah. Meminjam judul tulisan Evelyn Lee, ‘democracy exists because losers accept their loss’.

Premis ilmuwan dari Pepperdine University ini menggambarkan betapa signifikannya peran pihak yang kalah dalam menegakkan demokrasi. Sikap ksatria merekalah yang membuat demokrasi tetap hidup dan berdenyut, sekalipun coba dibunuh.

Hal terberat dalam sebuah pertarungan adalah menerima kekalahan dengan besar hati dan kepala tegak. Dan itu sangat tidak mudah.

Semua orang memang mudah menyikapi kemenangan. Namun hanya orang-orang besar yang dapat menanggung kekalahan dengan penuh hormat.

Kekalahan memang dapat menjadi oase yang jernih tempat kita bercermin. Ia menawarkan ruang yang lebih luas untuk belajar dibandingkan kemenangan.

Itulah sebabnya orang yang tak pernah merasakan kekalahan menjadi mudah jumawa dan lupa diri karena tak pernah memiliki ruang bercermin. Saatnya tentu akan tiba ketika keadilan menemukan jalannya sendiri.

Demokrasi memang bukan pupur yang dapat sekedar digunakan sebagai perias untuk menutupi buruk wajah kita yang sebenarnya.

Berita Terkait