Kartini dan Konstitusi

adilnews | 21 April 2024, 12:25 pm | 79 views

Oleh Okky Madasari PhD

Kartini tidak seharusnya diperlakukan sebagai mitos. Demikian juga dengan Demokrasi Indonesia.

Merayakan Kartini adalah merayakan pikiran-pikirannya, membaca dan mengkaji ulang tulisan-tulisannya, menggunakannya untuk memahami permasalahan hari ini.

Kartini adalah seorang pemikir sosial. Pramoedya Ananta Toer tak segan menggunakan istilah ”teori Kartini” untuk merujuk gagasan-gagasan Kartini.

Kartini adalah seorang manusia politik.

Sebagai pemikir bumiputra pertama yang hidup di masa peralihan, Kartini merumuskan dan memperjuangkan kemajuan yang kemudian menjadi milik seluruh bangsa.

Pemikiran Kartini berdasar pada etika, pada prinsip untuk menegakkan kebenaran, mewujudkan kesetaraan dan keadilan sosial. Kartini sejak awal juga selalu menggarisbawahi rakyat sebagai tujuan.

Hal itu pula yang menjadi prinsip demokrasi. Demokrasi tanpa ada etika, kesetaraan dan keadilan sosial, hanyalah mitos belaka. Mengatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi, namun membiarkan adanya pelanggaran etika, merayakan pelanggaran hukum dan ketidakadilan adalah puncak kemunafikan sebuah bangsa.

Dua puluh lima tahun memang waktu yang singkat dalam usia perjalanan demokrasi sebuah bangsa. Namun, kita tak boleh lupa, bahwa nilai-nilai dasar demokrasi telah tertanam dalam gagagasan sejak lebih dari 1 abad lalu.

Demokrasi kita bukan sebuah hadiah, bukan pula warisan, melainkan benih yang terus dirawat & dijaga agar terus tumbuh dan berbuah.

Atas kesadaran itu, di awal Reformasi, Mahkamah Konstitusi dibentuk. Mahkamah Konstitusi adalah anak kandung Reformasi, yang dilahirkan dengan harapan bisa menjaga negeri ini agar tetap berpijak pada konstitusi dan mengawal demokrasi.

Melalui MK, rakyat bisa mengadukan ketidakadilan yang disahkan oleh pertaruran perundang-undangan.

Besok, kita akan sama-sama melihat apakah Mahkamah Konstitusi akan teguh menjalankan tugasnya sebagai penjaga konstitusi dan mewujudkan sebenar-benarnya demokrasi di negeri ini.

Besok kita akan sama2 melihat, apakah MK akan membawa demokrasi kita untuk terus maju atau justru mundur satu abad.

Jika revolusi adalah utopi & kekerasan adl hal yg harus dihindari, harapan kita ya Mahkamah Konstitusi.

*Orasi Hari Kartini di Balairung UGM, 21 April 2024

Berita Terkait