Di Negeri Ketakutan, Oleh: Achmad Munjid

adilnews | 16 March 2024, 13:40 pm | 59 views

Bagai lembaga penjara, di negeri ketakutan Pendidikan dikelola sebagai industri ketakutan Dengan birokrasi serba curiga, penuh ketakutan Dikontrol pejabat yang dihantui ribuan ketakutan Sekolah-sekolah mendikte buku teks ketakutan Murid-murid gemetar mengeja huruf ketakutan Pendidikan dibayangi rasa takut macam-macam Takut ketinggalan teknologi, ketinggalan informasi Takut tercemari ideologi, takut kehilangan jati diri Takut dianggap tak beriman, takut iman berlebihan Guru takut pada pertanyaan

Siswa takut belajar kenyataan
Orang-orang takut perdebatan, takut perbedaan

Sekolah dan universitas sibuk indoktrinasi
Pikiran siswa dan mahasiswa dibuat seragam
Menurut sistem yang menolak dipertanyakan Lembaga pendidikan suntuk administrasi Terperangkap borang-borang serba dekorasi
Jargon dan slogan-slogan tanpa substansi
Alpa ajaran guru bangsa Ki Hajar Dewantara
Tak peduli tanggung jawab utama Pendidikan: Mengasuh watak, merdeka bernalar, terampil berkarya Agar setiap anak tumbuh wajar menjadi manusia Paham diri sendiri, bijaksana, mandiri di tengah dunia

Serupa kisah Menara Babel, tragedi kutukan
Di negeri ketakutan, akibat pendidikan ketakutan Orang-orang tak lagi paham bahasa kebenaran Politik dikelola buat menaklukkan kebenaran Hukum dibuat untuk menyiasati kebenaran Birokrasi adalah prosedur meringkus kebenaran Pengetahuan dipelajari demi mengakali kebenaran Agama digunakan untuk menggelorakan ketakutan Para pemuda disihir jinak jadi domba-domba
Buat mangsa kawanan licik serigala penguasa

Di negeri ketakutan, semua takut Para hakim takut keadilan
Anggota parlemen takut konstituen Akademisi takut berpikir merdeka Wartawan takut menulis fakta Penyair takut pada kata-kata Seniman takut pada imajinasinya Para komika takut tertawa
Para rohaniawan takut berdoa
Para oligark takut orang lain tahu
Bagaimana harta mereka ditimbun
Mereka membeli peraturan dan kursi kekuasaan Juga pendongeng, tukang sulap dan juru gendam Para penguasa takut bagaimana setan kekuasaan Kelak datang menuntut tebusan di akhir jabatan Mereka pun bertahan dengan segala cara
Dengan biaya apa saja, termasuk hukum dan etika Lalu mewariskan ketakutan pada sanak keluarga

Di negeri ketakutan
Penguasa amat takut mendengar suara
Ia kunci segenap pintu dan jendela
Ia tutup segala lubang, semua telinga
Tapi siapa tak dengar suara akal dan nurani? Seperti air dan udara ia selalu punya cara Menyelinap lewat celah apa saja
Telinga lahir bisa disumpal
Tapi telinga batin tetap mendengar
Tekanan justru mendorong arus kian besar
Bisik samar kini menjelma gemuruh menggelegar Dari mimbar-mimbar universitas, masjid, gereja Dari social media, dari lembaran berita
Dari obrolan kafe, dari pernyataan resmi lembaga Bangkit kesadaran, bahwa ketakutan hanya kalah Oleh gelombang lebih besar gulungan ketakutan Atau oleh suara akal, nurani dan kebersamaan

Wahai, para mahasiswa universitas ketakutan
Para dosen yang takut terhambat naik jabatan Lulusan yang takut tak mendapat pekerjaan
Kelas bawah yang takut intimidasi kaum juragan Kelas menengah yang takut kehilangan kesempatan Umat yang takut dosa rekaan agamawan Agamawan yang takut jauh dari kekuasaan

Gunakan akal, ikuti nurani kalian
Mari bangkit bersama, lihat cahaya
Mari berdiri, kita erat bergandengan tangan

Hentikan kesewenangan mengangkangi kebenaran Hentikan arogansi anjing-anjing rakus penguasa Semena menginjaki konstitusi, moralitas bangsa Hentikan penculik akal sehat dan nurani
Jangan biarkan perampok keadilan bebas menari Di atas nestapa nasib buruh, nelayan dan petani Jangan biarkan kebohongan memutarbalik sejarah Kita junjung tinggi amanat para pendiri Republik Bebaskan warga dari kerangkeng ketakutan Biarkan para akademisi berpikir merdeka
Jangan biarkan generasi muda dikebiri
Singkirkan pengkhianat proklamasi dan reformasi Pekik demokrasi tak bisa dibungkam
Marsinah, Munir, para korban penculikan aktifis 98 Mereka telah gugur sebagai pahlawan

Di negeri ketakutan
Nyawa penyair Wiji Thukul bisa direnggut paksa Tapi jiwa-jiwa merdeka abadi dalam puisi Semangat Wiji-Wiji Thukul tak bisa dihabisi Hanya ada satu kata: lawan!
Bagi para pelanggar konstitusi
Hanya ada satu kata: lawan!
Bagi para pengkhianat janji reformasi
Hanya ada satu kata: lawan!
Bagi para pengingkar cita-cita proklamasi Hanya ada satu kata: lawan!

Puisi ini karya Achmad Munjid, Fakultas Ilmu Budaya UGM, dibacakan pada acara Kampus Menggugat di Balairung UGM 12 Maret 2024

Berita Terkait