Sopir Nekad Memasuki Gerbang Zhongnanhai,Teriak “Komunis Pembunuh

adilnews | 17 March 2024, 15:05 pm | 35 views

Sebuah mobil hitam mencoba memasuki kompleks Zhongnanhai melalui Gerbang Xinhua, pintu masuk utama ke kompleks tersebut, dan penjaga melompat ke arah pengemudi. Orang-orang yang berkendara melewati Gerbang Xinhua mengabadikan kejadian tersebut dalam sebuah video yang bocor ke dunia luar.

Video tersebut menunjukkan seorang pria diseret keluar dari mobil oleh sekelompok penjaga keamanan di luar Gerbang Xinhua. Tampaknya berasal dari platform mirip X, tetapi semua postingan telah dihapus. Selanjutnya, insiden yang terjadi pada 10 Maret 2024 tersebut tidak dibahas di Weibo.

Bobolnya penjagaan keamanan Kompleks Zhongnanhai di ibu kota, Beijing, memang terlihat janggal. Zhongnanhai sering disebut sebagai pusat saraf politik Tiongkok, setara dengan Gedung Putih di Amerika Serikat. Disitu adalah kediaman para pemimpin tertinggi Tiongkok dan tempat pengambilan keputusan eksekutif yang penting. Wajar saja jika keamanan di pintu gerbang itu sangat ketat dan dijaga pengamanan berlapis.

Media Taiwan melaporkan bahwa seseorang terdengar berteriak “komunis pembunuh” dalam video tersebut.

“Proses ini divideokan oleh orang lain yang lewat di lokasi kejadian. Anda dapat mendengar seseorang berteriak ‘komunis pembunuh’ pada saat itu,” lapor Medi Taiwan Liberty Times.

Newsweek secara independen mengkonfirmasi bahwa insiden itu terjadi di Gerbang Xinhua dengan merujuk silang video-video lama di tempat tersebut.

Motivasi insiden tersebut belum diketahui. Namun, perkembangan yang menunjukkan perbedaan pendapat di pusat pemerintahan Tiongkok jarang terjadi.

Warga Tiongkok yang tinggal di luar negeri membandingkan insiden sopir nekad tersebut dengan kasus Peng Lifa, di mana seseorang mengibarkan spanduk, salah satunya menyebut pemimpin Tiongkok Xi Jinping sebagai “pengkhianat nasional”.

Pada 13 Oktober 2022, seorang warga negara Tiongkok bernama Peng Lifa memasang dua spanduk di Jembatan Sitong Beijing. Salah satu spanduk bertuliskan: “Kami ingin makanan, bukan tes PCR. Kami ingin kebebasan, bukan lockdown. Kami ingin rasa hormat, bukan kebohongan. Kami ingin reformasi, bukan Revolusi Kebudayaan. Kami ingin pemungutan suara, bukan pemimpin. Kami ingin menjadi warga negara.” , bukan budak,” lapor Guardian pada Oktober 2022.

Dengan terjadinya insiden sopir nekad tersebut, muncul spekulasi politik. Apalagi peristiwa ini terjadi setelah pertemuan politik penting tahunan Tiongkok, “Dua Sesi” (atau “lianghui”), yang dimulai di Beijing pada 5 Maret 2024. Dua sidang tersebut, yang merangkum Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), berfungsi sebagai forum penting untuk membahas urusan negara, alokasi anggaran dan kebijakan ekonomi untuk siklus lima tahun ke depan.

Saat ini kendali Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam urusan sehari-hari di bawah kepemimpinan Xi Jinping mendapat sorotan tajam karena ia semakin menekankan pentingnya menjaga keamanan nasional dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Pertemuan Dua Sesi tahun ini juga menjadi sorotan menyusul gejolak signifikan dalam lanskap politik Tiongkok. Khususnya, tahun lalu telah terjadi pemecatan tokoh-tokoh penting, termasuk menteri luar negeri dan menteri pertahanan , dengan lebih dari 10 pejabat senior yang menghadiri Dua Sesi tahun lalu tidak lagi memegang jabatan mereka.

Di antaranya adalah Qin Gang, menteri luar negeri Tiongkok dengan masa jabatan terpendek, dan Li Shangfu, menteri pertahanan dengan masa jabatan terpendek . (Fadjar)

Berita Terkait