Antara Starling & Bahaya StarLink, bak Ndoro Tuan & Bedinde

adilnews | 24 May 2024, 22:45 pm | 84 views

Oleh : Dr. KRMT Roy Suryo

Kata “Starling” memang sudah lama populer di Indonesia, Pertama karena nama ini bisa merujuk kepada seorang Agen FBI yg protagonis dalam Novel Silence of The Lamb (1988) yang diperankan oleh Jodie Foster dalam film dengan judul yang sama (1991). Thomas Harris sebagai penulisnya kemudian meneruskan Novel tersebut dengan judul Hannibal (1999), namun karena Jodie Foster yang sudah sangat baik memerankan agen tersebut diganti Julianne Moore (2001) kelanjutan sekuel film ini menjadi kurang sepopuler sebelumnya. Tapi maraknya nama “Starling” disini sebenarnya bukan karena pemerananan yabg cukup apik sosok Hannibal Lecter di kedua film tsb oleh Sir Philips Antony Hopskins (kini 87th), namun akronim terseut justru bermakna penjual kopi keliling alias “Starbuck keliling”.

Starling, meski disebut-sebut nama Starbuck, tetapi kopi yang dijual kelilingan ini bukan berasal dari Gerai resminya yg kini berjumlah sekitar 500-an di Indonesia. Kopi racikan Starling ini cukup populer dikalangan komunitas pecinta kopi Indonesia. Walau sama-sama berasal dari Amerika, namun Starbuck aslinya (tanpa keliling) ini sudah didirikan semenjak 31 Maret 1971 di Pike Place Market, Elliott Bay, Seattle, Washington, AS oleh tiga perintisnya yang terdiri atas dua orang guru (Jerry Baldwin & Zev Siegl) serta seorang penulis (Gordon Bowker), sedangkan “Starlink”, huruf akhir belakangnya “k” dan bukan “g” merupakan nama dagang produk jasa layanan teknologi informasi milik Elon Musk, jutawan asal Amerika yg membuat heboh tanah air baru-baru ini.

Jadi keduanya memang BeTi, alias beda-beda tipis, selain hanya beda huruf “g” dan “k”, juga memiliki persamaan membuat heboh Indonesia. Bahkan kalau Starbuck sempat diboikot oleh sebagin masyarakat beberapa waktu lalu karena dituduh mendukung Israel lantaran perusahaan tsb sempat menggugat serikat pekerjanya, Starbucks Workers United setelah organisasi buruh tsb mengunggah pesan yang sudah dihapus di X (Twitter) yang menyatakan solidaritas terhadap warga Palestina. Ini membuat gerakan BDS / Boycott, Divestment, Sanctions atau Boikot, Divestasi, Sanksi berlangsung secara global, sampai ke Indonesia.

Begitu kritisnya sikap masyarakat terhadap Starbuck ini, sampai-sampai ketika ZA, salah seorang Wakil Ketua DPRD Jakarta, anak dari MenDag & Ketum salah satu partai pro-Rezim ZH, mengunggah foto secangkir Kopi Starbuck di Masjidil Haram yang menutupi Ka’bah beberapa waktu lalu, langsung menuai kritik dan cercaan warganet karena dianggap tidak punya empati terhadap gerakan BDS ke Starbuck yang dianggap tidak mendukung Palestina itu. Meski Starbuck Indonesia sudah mengklarifikasi issue soal pro-Israel yang sempat berpengaruh terhadap gerai-gerai Starbuck di Indonesia, memang sebaiknya jangan bermain api kalau tidak ingin tersulut.

Kalau dulu yg heboh sebelumnya adalah Starbuck bukan Starling (akhiran “g”), maka sekarang nama StarLink (akhiran ” k”) benar-benar membuat publik tanah air memperbincangkannya. Bagaimana tidak? Bukan soal pemilik bisnisnya yang bergaya cukup nyleneh dan bahkan sempat beredar foto dirinya yang duduk sendirian bak Ndoro Tuan di Kursi, sementara dibelakangnya berjajar para Menteri Rezim ini laksana Inlander. Foto yang diambil 23 Mei 2024 ini mengingatkan kita kepada era Penjajahan Belanda silam yang memperlakukan bangsa Indonesia hanya seperti oBedinde (baca: Jongos)-nya saja, sungguh Ironis.

Namun praktek dari Foto “Ndoro Tuan dan Bedinde”-nya itu memang bisa tercermin bagaimana Republik ini seolah-olah tidak ada apa-apanya menghadapi bisnis StarLink yang baru saja diizinkan pemerintah untuk sekaligus menggelar bisnis Provider Internet dan Telekomunikasi. Laksana Karpet Merah yang digelar untuknya, bahkan diberi kesempatan untuk berbicara di Podium bak Kepala Negara (mungkin karena minimnya sosok yang hadir) di WWF Bali kemarin, Elon Musk terasa sangat superior dibandingkan pemerintah ini yang Inferior dimata dunia. Citra seolah “Negara tak punya marwah” seperti ini menambah citra buruk Indonesia, yang memang sekarang berada di titik nadir dalam pandangan global dunia (baca tulisan saya sebelumnya ” INDONESIA HARUS INTROSPEKSI DAN TOBAT SECARA NASIONAL”)

Karena bukan hanya seperti “Pungguk merindukan Bulan” menanti investasi Elon Musk dengan Tesla-nya membangun pabriknya di Indonesia, untuk sekedar mengambil Komponen Battery EV-nya pun masih tanda tanya, padahal dulu sampai Presiden kita sudah jauh-jauh sowan kesana dan kemarin memperlakukannya sangat istimewa. Posisi (ketidakberdayaan) Indonesia ini saya khawatirkan akan terus terjadi kalau awalnya sudah posisi begini, karena sebagaimana saya tulis sebelumnya, berdasarkan data DownDetector Starlink menggunakan satelit orbit rendah (LEO / Low Earth Orbital) yang masih menggunakan IP global. Hal ini berpotensi membahayakan data pribadi masyarakat dan kedaulatan negara.

Jelasnya Starlink sekarang sudah diizinkan beroperasi di Indonesia, namun masih belum menggunakan IP lokal. Jaringannya langsung tersambung ke Starlink di Amerika Serikat. Dengan begitu, pemerintah Indonesia tidak memiliki kontrol atas mereka. Sebagai informasi, alamat Internet Protocol (IP) adalah serangkaian angka yg menjadi identitas perangkat yang terhubung dengan jaringan. IP ini juga dimiliki oleh komputer, ponsel, ataupun server dari website. Selain itu. penggunaan IP Global bisa memicu praktik perjudian online bisa makin menjamur di Indonesia. Ini karena IP nya tak memiliki NOC (Network Operating Control) disini, sehingga tidak bisa bisa dicek langsung apalagi diintersepsi.

Indonesia sebenarnya mempunyai regulasi Law interception, regulasi yang mengatur terkait dengan penyadapan. Hal ini tercantum dalam Peraturan Menteri (PM) Kemenkominfo No.08/2014. Meski Menkominfo Budi Arie Setiadi dalam siaran Live-nya di CNNI kemarin mengatakan kalau StarLink dijamin sudah menggunakan IP lokal, benar? Jangan-jangan ini seperti KPU yang waktu itu berani melakukan Kebohongan publik dengan mengatakan data-data tidak disimpan di Luar Negeri, namun ternyata terbukti di Sidang KIP, data-data -sesuai statemen awal saya dahulu- disimpan di Aliyun Computing Co.Ltd Alibaba.com Singapore. Kalau sumber penyimpanan datanya saja sudah bohong, wajar hasilnya pun tidak bisa dipercaya, namun sayangnya masyarakat bisa diperdaya.

Kesimpulannya, sebagaimana warning ATSI (Asosiasi Telepon Seluler Indonesia) dalam diskusi Akhir tahun 2023 lalu yang sempat H2C / harap-harap Cemas, sekali lagi bukan H2SO4 / SamSul / aSAM SULfat yang sempat jadi trending topic, kehadiran StarLink memang bak pisau bermata dua, bisa positif dan negatif. Beberapa syarat ATSI yang sempat diusulkan menurut saya bagus untuk dipertanyakan lagi agar dicapai level playing field yang sama, misalnya StarLink harus memiliki izin Landing Right (hak labuh) & memiliki NOC, juga harus membangun DRC (Disaster Recovery Center) di Indonesia, membayar biaya hak penggunaan (BHP) Telekomunikasi dan USO / Universal Service Obligation. Apakah semua sudah dipenuhi? Kalau belum ya AMBYAR.

*Dr. KRMT Roy Suryo, Pemerhati Telematika, Multinedia, AI & OCB*

Berita Terkait