
Ini cerita teman sepermainanku di kampung. Malam itu adalah hari pesta pernikahannya, dengan hiburan dangdut organ tunggal. Akad nikah sudah dilakukan siang sebelumnya. Kebetulan istrinya yang baru disahkan tak lain tetangganya sendiri, rumahnya hanya berjarak sekitar satu kilometer.
Sehabis akad nikah, dia pamit pulang ke rumahnya dulu karena mau istirahat sebentar. Di rumah istrinya terlalu ramai, dan lagian rumahnya sempit sekali. Jadi gak bakalan bisa istirahat disana.
Bada Magrib, dia bersama orang tua dan saudara-saudaranya menuju ke rumah mempelai wanita dengan berjalan kaki. Di tengah jalan saat melewati kebon jati, dia kebelet kencing. Akhirnya dia ijin menyelinap ke dalam kebon untuk buang air kecil.
Lega rasanya dia bisa kencing. Seperti kebiasaannya habis buang air kecil selalu mencuci “burung”nya. Tapi karena tidak ada air, dan lupa bawa tissue, ia terpaksa memetik daun yang ada disekitarnya untuk membersihkan organ vitalnya. “Karena mau dipake malam ini, burungku harus bersih dan tetap wangi,” gumamnya dalam hati.
Setelah menuntaskan hajatnya, dia kembali bergabung dengan rombongan untuk melanjutkan perjalanan. Saat itulah dia mulai garuk-garuk pada celananya. Ia merasakan gatal yang luar biasa pada alat kelaminnya. Begitu sampe lokasi acara, rasa gatalnya semakin menjadi.
Selama resepsi pernikahan malam itu, dia sangat tersiksa. Dia tak mungkin meninggalkan pesta. Hanya bisa berdoa, semoga tamu-tamunya lekas pulang, sambil garuk-garuk celananya. Penasaran dengan keadaan “burung”-nya, dia pun pamit ke WC di rumah istri barunya itu.
Betapa kagetnya dia saat membuka celana. “Burung”nya jadi bengkak dan tetap gatal. Ia pun berpikir, apa penyebabnya? Dia pun ingat, “Jangan-jangan waktu habis kencing itu masalahnya. Aku sembarangan memetik daun untuk membersihkan bagian organ tubuh itu.
Begitu kembali ke kursi pelaminan, dia pun memanggil adiknya untuk membelikan salep obat gatal di apotek terdekat. Dengan menahan rasa gatal yang luar biasa sekitar 3 jam, dia bersama pengantin wanita akhirnya pamit untuk istirahat
Setelah sampe kamar, dia pun langsung membersihkan badan. Dia langsung olesin “burung”nya dengan salep obat gatal. Meski rasa gatal berkurang, tapi “senjata”nya itu masih bengkak. Apakah dia masih bisa berfungsi di malam pertama ini, pikirnya.
Begitu ke luar kamar mandi, istrinya sudah siap ber”tempur”. Dia disuruh minum jamu dengan telur bebek plus madu. Akhirnya dia terpaksa mengaku tragedi yang menimpanya, keperjakaannya direngut ulat bulu. Sang istri bukanya sedih mendengar ceritanya, eh malah terpingkal-pingkal tertawa. Wah malam pengantin gagal total nih gegara ulat bulu sialan itu……..
