Hasto Target Drama Politik Bubrah

adilnews | 8 June 2024, 09:12 am | 118 views

Ir. KPH. Adipati, Bagas Pujilaksono Widyakanigara Hamengkunegara, M. Sc., Lic. Eng., Ph.D. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta & Seniman/Budayawan Yogyakarta

Hiruk-pikuk politik bubrah, jelang dan pasca Pemilu 2024, menerpa Hasto Kristiyanto, karena Hasto kritis dan bersuara lantang.

Saya kenal Hasto sejak kita sama-sama kuliah di Fakultas Teknik UGM. Saya mengambil program S1 Teknik Nuklir, spesialisasi Teknologi Reaktor Nuklir, angkatan 1984, sedang Hasto menempuh program S1 Teknik Kimia, angkatan 1985. Hasto sejak dahulu ya begitu itu, tidak pernah berubah: kritis, lantang bersuara, GMNI sejati, sedang saya GMNI ingah-ingih, wani-wani angas, takut Rezim Orba.

Yang membuat saya kagum pada Hasto adalah semangat belajarnya yang luar biasa, selalu corious tentang sesuatu yang baru. Saya dengar Hasto, di sela-sela kesibukannya sebagai Sekjen PDI Perjuangan, saat sedang menempuh S3 yang kedua, yang pertama sudah lulus dari UNHAN, sekarang S3 lagi di UI. Luar biasa.

Jelas, ijazah Hasto bukan Ijazah Palsu, atau paling tidak secara politik tidak ada peluang dirumorkan Ijazah Palsu.

Ijazah Asli dibilang Ijazah Palsu? Itu karena bosoknya mental yang punya ijazah asli.

Atau, di masalalu, ada cerita pemegang Ijazah Asli ini, manipulatif, misalnya memanipulasi konstitusi, sehingga ijazahnya dibilang palsu.

*Koq tanya saya? Tanya yang nggugat, tanya lembaganya, koq tanya saya? Hallah cangkem bosok, wajah innocent!*

Sebagai Sekjen PDI Perjuangan, jelas Hasto berkewajiban menyuarakan suara partai: lantang dan konsisten.

Jelas, sikap politik Hasto sangat mengganggu seseorang yang ingin langgeng berkuasa, hingga anak, menantu, cucu, buyut, dst. Raja Nusantara berwajah bopeng. Ra wangun babar blas, pakai baju songkok ageng, kewanèn. Petruk dadi ratu. Ana kèrè munggah balè. Milik nggéndhong lali, lali purwo duksino.

Wirang mbebarang. Wirangé dianggo mbarang.

Tidak punya rasa malu, tidak tahu berbalas budi dan tidak pandai berterimakasih. Dasar si Klilur, wajah buruk dan mental busuk.

Betapa busuk mentalnya, di dalam sistem demokrasi, pingin langgeng berkuasa. Pak Harto saja, yang 32 tahun berkuasa, dengan Rezim Orbanya, Dwi Fungsi ABRI, yang terang-terangan menjadikan Pancasila sebagai alat kekuasaan, tidak seburuk itu.

Saya bukan pendukung pak Harto. Saya tidak pernah memaafkan perlakuan pak Harto terhadap Bung Karno. Namun, tegas saya harus katakan, pak Harto jauh lebih baik dibandingkan yang ada saat ini.

Hasto menjadi target, kebiadaban Politik Dinasti di era reformasi.

Orang menuduh Hasto, ini-itu-ini-itu, silakakan saja. Saya tahu, tuduhan itu sifatnya politis. Kemasan politik dalam format penegakan hukum. Mbel!

Saya dukung Hasto di masa-masa sulit. Apapun taruhannya. Tidak akan pernah membiarkan sahabat terpuruk sendirian. Téga larané, ananging, ora bakal téga patiné.

Kali ini, saya harus cawé-cawé. Cawé-cawé itu konotasinya positif, demi bangsa dan negara demokrasi, menuju Indonesia Emas 2045. Kalau cawé-cawé untuk membangun Dinasti Politik, namanya céwak-céwok, mencret, habis makan uang haram.

Merdeka!

Yogyakarta, 2024-06-08
BPW. Hamengkunegara

Berita Terkait