Kampanye Petisi Anti-Falun Gong, Menipu Puluhan Juta Orang

adilnews | 27 February 2024, 07:28 am | 30 views

Dengan berbagai cara, pihak kepolisian China menekan warga untuk menandatangani petisi dan menggunakan aplikasi WeChat untuk melancarkan kampanye 

Sudah setahun ini, Rejim Partai Komunis China (PKC) berusaha memobilisasi lembaga-lembaga kemasyarakatan di seluruh Tiongkok dan memanfatkan aplikasi WeChat yang digunakan di mana-mana untuk menyebarkan propaganda palsu yang menjelekkan Falun Gong (Falun Dafa) dan mengumpulkan jutaan tanda tangan pada petisi melawan latihan kultivasi tersebut dan kelompok agama lainnya. 

Kampanye petisi, yang diluncurkan pada awal tahun 2023, berpusat pada petisi interaktif dengan karakter animasi yang diterbitkan di aplikasi WeChat Tencent oleh Asosiasi Anti-Kultus China (CACA), sebuah organisasi yang beroperasi di bawah Komite Urusan Politik dan Hukum PKC yang telah lama menjadi ujung tombak upaya rejim untuk memfitnah dan menganiaya Falun Gong. 

“Selama bertahun-tahun di seluruh China, jutaan praktisi Falun Gong telah mencetak dan menyebarkan selebaran buatan sendiri yang mengungkap penganiayaan yang mereka alami, dan sifat tirani PKC secara lebih luas, sekaligus menyangkal propaganda negara,” kata direktur eksekutif Pusat Informasi Falun Dafa, Levi Browde. Kampanye lewat WeChat yang baru ini jelas merupakan upaya putus asa untuk memerangi penyebaran kebenaran dari bawah, dan memaksa orang untuk mengikuti kemauan PKC. 

“Kita tahu dari pidato publik dalam beberapa tahun terakhir bahwa perang salib PKC untuk ‘menindak tegas’ Falun Gong tetap menjadi prioritas utama bagi aparat keamanan, dan kampanye ini jelas merupakan upaya Orwellian untuk melakukan hal itu,” tambah Browde. “Orwellian” maksudnya menggambarkan situasi, ide, atau kondisi masyarakat yang oleh George Orwell diidentifikasi sebagai suatu hal yang merusak kebebasan dan keterbukaan masyarakat. 

Upaya terbaru ini menandai pengumpulan tanda tangan terbesar untuk memfitnah latihan spiritual Falun Gong yang dilakukan oleh PKC sejak 2017, ketika Kejaksaan Agung Rakyat mendukung kampanye pengumpulan tanda tangan oleh CACA dan Kantor 610. Puluhan juta orang telah menandatangani petisi tersebut. Penelitian tersebut mengidentifikasi referensi kampanye di website pemerintah China atau situs resmi lainnya di 30 provinsi, kota, dan daerah otonom. 

Laporan media pemerintah China tentang kampanye tersebut juga menyoroti cakupan wilayahnya. “Organ keamanan publik di 31 provinsi, daerah otonom dan kotamadya, Korps Produksi dan Konstruksi Xinjiang, 285 kota tingkat prefektur, dan lebih dari 2.500 kabupaten dan kotapraja” telah menerapkan promosi untuk petisi ini, demikian laporan 10 Mei 2023 di People’s Daily, media corong PKC. Sebagaimana dinyatakan dalam artikel tersebut, publisitas di beberapa daerah juga telah meluas ke “permainan interaktif… dan pertunjukan teater.” Kampanye black propaganda ini masih berlangsung hingga sekarang ini. 

Mengkoptasi Teknologi 

Kampanye anti-Falun Gong ini berpusat pada aplikasi WeChat, aplikasi pesan dan e-commerce yang dikembangkan oleh raksasa teknologi China Tencent, yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. WeChat memiliki lebih dari satu miliar pengguna, namun juga memiliki sejarah membantu pengawasan dan penyensoran PKC terhadap pembangkang politik, minoritas etnis, dan komunitas agama yang dianiaya. Petisi anti-Falun Gong menampilkan karakter kartun seperti prajurit mini, kelinci lucu, dan lencana WeChat yang ditujukan untuk menarik pengguna dari segala usia. Petisi ini diaktifkan melalui kode QR, yang mengarahkan pengguna ke halaman profil Asosiasi Anti-Kultus China. 

Menurut tangkapan layar yang dipublikasikan online oleh beberapa situs web pemerintah, petisi lima langkah tersebut mengharuskan pengguna WeChat untuk membaca foto dan cerita yang menjelekkan dua puluh lima kelompok spiritual dan agama terlarang, dengan penekanan yang signifikan pada Falun Gong. 

Gambar dan bahasa termasuk fabrikasi yang telah lama dibantah tentang praktisi Falun Gong yang melakukan bunuh diri atau bakar diri, yang mengacu pada insiden yang dipentaskan oleh PKC pada Januari 2001 dan digunakan untuk mengubah opini publik terhadap komunitas tersebut dan membenarkan peningkatan kekerasan terhadap para pengikutnya. 

Tindakan yang disarankan bagi mereka yang menandatangani petisi termasuk: menolak selebaran dan CD yang dibagikan oleh para pengikut, memberi tahu polisi tentang pesan Falun Gong dengan uang, dan melaporkan kepada pihak berwenang tentang teman dan keluarga yang mempraktikkan Falun Gong. Setelah mengkonfirmasi tanda tangan mereka dengan ketukan, pengguna kemudian diminta untuk memasukkan detail lokasi dan nama lengkap mereka. Terakhir, pengguna menerima penghargaan penyelesaian, dinamai “Lencana Penjaga”, dan dihimbau untuk membagikan petisi kepada teman dan keluarga mereka. 

Tidak jelas konsekuensi apa yang dihadapi pengguna jika mereka menolak menandatangani petisi, seperti pembatasan fungsionalitas akun WeChat mereka atau pelaporan nama mereka kepada pihak berwenang. Namun, menurut Browde, konsekuensinya jelas bagi pengguna China. 

“Semua orang akan tahu bahwa penolakan mereka untuk menandatangani petisi akan dicatat oleh pihak berwenang, dan disimpan dalam catatan digital mereka,” kata Browde. Hal itu sangat mungkin mengingat pengawasan yang meluas di seluruh China biasa dilakukan dengan cara licik untuk mengklasifikasikan semua warga negara sebagai pro atau kontra Falun Gong, yang dapat digunakan terhadap mereka kapan saja di masa depan. 

Skala besar, memobilisasi masyarakat 

Upaya rezim untuk mengumpulkan tanda tangan melalui petisi—yang diberi judul oleh PKC, “Katakan Tidak pada para sesat (Bidat)” (“对邪教说不” 签名活动)—bersifat nasional dan juga melibatkan kegiatan offline. Berbagai lembaga negara dan partai telah direkrut ke dalam implementasinya, termasuk kepolisian, Biro Keamanan Publik, komite PKC lingkungan dan kota, komite desa, dan administrasi sekolah. 

Menurut referensi di situs web pemerintah daerah, anggota komite lingkungan PKC telah mendirikan stan di supermarket besar, alun-alun, dan taman untuk meminta tanda tangan di tempat-tempat seperti Kota Jinzhou di provinsi Liaoning dan Distrik Tianhe di provinsi Guangdong. 

Di provinsi Jiangsu, anggota Partai di Kota Erjia bermitra dengan staf klinik desa untuk meminta tanda tangan petisi dari rumah ke rumah dengan menyediakan pengukuran tekanan darah gratis. Anggota komite Partai Kota Erjia mengklaim “kesehatan yang baik” termasuk menjauhi kepercayaan terlarang, termasuk mungkin Falun Gong. 

Pada tahun 2023 dan 2024, rezim China telah memperluas program kampanye tanda tangan untuk mencakup desa-desa terpencil dan daerah minoritas etnis. Tiga contoh meliputi: Komite desa di provinsi Sichuan dilaporkan mengadakan lebih dari 70 acara anti-Falun Gong, memasang 32 spanduk, dan membagikan lebih dari 3.000 poster di seluruh komunitas mereka untuk mempromosikan petisi. 

Sedangkan Biro Keamanan Publik Haidong di provinsi Qinghai mengadakan lebih dari 20 acara publisitas tentang petisi, memasang lebih dari 50 spanduk, memasang lebih dari 3.000 poster, membagikan lebih dari 5.000 brosur dan 4.000 bahan promosi lainnya. 

Biro Keamanan Publik Kabupaten Jingyuan di Daerah Otonom Ningxia mengadakan 3 kegiatan publisitas di daerah pedesaan dan tempat-tempat keagamaan, memasang 6 papan pajangan propaganda, membagikan lebih dari 2.000 bahan publisitas, memasang lebih dari 100 poster, dan mencapai lebih dari 2.000 orang di wilayah tersebut. 

Beberapa dokumentasi kampanye yang paling kuat muncul di Tianjin, di mana satuan tugas polisi ekstra-legal ‘Kantor 610’ bermarkas, mereka bertanggung jawab untuk melaksanakan misi menghilangkan Falun Gong baik di dalam China maupun melalui represi transnasional di luar negeri. 

Situs web Biro Keamanan Publik setempat menerbitkan total 41 artikel untuk mempromosikan petisi antara bulan April hingga Desember 2023. Mulai tanggal 14 April, Biro Keamanan Publik Kota Tianjin bersama-sama meluncurkan acara dengan beberapa departemen Komite Distrik Dongli, termasuk Kantor Keamanan Nasional dan Komite Urusan Politik dan Hukum, untuk mengumumkan kampanye petisi. Acara tersebut terdiri dari 12 stan yang dilaporkan membagikan lebih dari 5.000 bahan promosi dalam satu hari. Acara tersebut juga menampilkan pertunjukan teater dan aerobik bertema “Katakan Tidak pada Bidat”.  

Tetapi tidak hanya melalui taktik propaganda dan produksi artistik yang dipertanyakan terkait pelaksanaan kampanye ini. Beberapa foto yang ditemukan di situs web pemerintah China menunjukkan petugas polisi atau perwakilan komite PKC melayang di atas pengguna ponsel saat mereka menandatangani petisi. Dalam keadaan yang begitu mengintimidasi, hampir tidak mungkin bagi pengguna untuk menolak menandatangani, terlepas dari pendapat mereka yang sebenarnya tentang Falun Gong dan kebebasan beragama. 

“Kampanye ini adalah pengingat terbaru bahwa korban penganiayaan PKC bukan hanya praktisi Falun Gong,” kata Browde. “Taktik yang digunakan menciptakan lingkungan yang koersif dan mengintimidasi yang menargetkan semua warga negara China. Mereka dipaksa untuk menandatangani dokumen yang mungkin sangat mereka tidak setujui dan bertentangan dengan hati nurani mereka karena seorang polisi mengawasi mereka, karena mereka takut resikonya, karena mereka bisa dikunci dari akun WeChat-nya, atau hanya dicatat sebagai orang yang bersimpati kepada Falun Gong, kenyataan yang bisa memicu masalah lainnya. 

Taktik tersebut sejalan dengan laporan kampanye polisi China lainnya baru-baru ini yang memaksa pengguna ponsel untuk menginstal aplikasi “anti-penipuan” yang dibuat oleh Kementerian Keamanan Publik, yang diyakini oleh banyak aktivis kebebasan sebenarnya itu digunakan untuk memantau pengguna atau mencegah panggilan internasional masuk. 

Jutaan Tanda Tangan Terkumpul 

Upaya kampanye skala besar yang menggunakan berbagai metode teknis dan pemaksaan ini telah memungkinkan PKC mengumpulkan banyak tanda tangan pada petisi tersebut. Dalam satu laporan dari Mei 2023, Biro Keamanan Publik Kota Tianjin mengklaim bahwa 27 juta tanda tangan telah dikumpulkan secara nasional. Laporan Tianjin lebih lanjut mengklaim kampanye tersebut telah mencapai tingkat “satu juta tanda tangan per hari.” Media pemerintah seperti People’s Daily dan Sohu News secara luas menyebarkan angka yang sama, meskipun jumlah tanda tangan tentunya telah meningkat sekarang. 

Satu tangkapan layar akun WeChat yang ditemukan di situs web yang dikelola oleh kantor polisi desa pedesaan tampaknya menunjukkan 46,9 juta orang telah menandatangani petisi tersebut pada musim gugur 2023. Skala ini sesuai dengan laporan dari situs web Minghui, situs web Falun Gong luar negeri yang menerbitkan laporan langsung dari jurnalis warga di seluruh China, yang juga melaporkan puluhan juta tanda tangan terkumpul pada Oktober 2023. 

Menginfiltrasi Pendidikan, Menggalang Pemuda China 

Sebagaimana tergambar dari kampanye media sosial dan laporan kegiatan offline, rezim komunis tampaknya memberikan fokus khusus pada pengaruh pelajar di sekolah-sekolah dasar dan menengah di seluruh China, mencoba untuk mengajak mereka memusuhi Falun Gong.   

Ribuan sekolah, dari sekolah dasar hingga universitas, diperkirakan telah menerapkan kampanye tanda tangan ini setelah Kementerian Keamanan Publik China dan Kementerian Pendidikan bersama-sama meluncurkan kampanye “Pendidikan Peringatan Anti-Bidat di Kampus” pada April 2023. Misalnya, di provinsi Shandong, 174 sekolah dasar dan menengah di Kota Laiyang dengan lebih dari 80.000 guru dan siswa dilaporkan dipaksa menonton film propaganda dan menandatangani petisi menentang Falun Gong.  

Sementara itu, di kota Tangshan, provinsi Hebei, sebuah kelompok partai menyarankan strategi lima poin untuk mempromosikan petisi secara lokal. Sesuai urutan prioritas, mereka mendaftarkan area yang menjadi sasaran sebagai sistem politik dan hukum, kampus, perusahaan, pedesaan, dan distribusi online melalui influencer. Sekolah menjadi prioritas kedua bagi pejabat keamanan publik untuk ditargetkan.  

Upaya rezim yang meluas seperti itu berdampak langsung pada para praktisi Falun Gong. Dalam satu kasus, seorang praktisi telah mengklik dan menandatangani petisi tanpa menyadari bahwa itu memfitnah keyakinannya. “Sekolah mengadakan kampanye tanda tangan untuk memfitnah Falun Gong,” kata mahasiswa di China yang mempraktikkan Falun Gong dalam artikel di situs web Minghui. “Saya tidak membaca halaman web dengan seksama dan hanya mengklik untuk menandatanganinya. Kemudian, saya belajar dari ibu mertua saya bahwa petisi itu memfitnah Falun Gong, dan saya sangat menyesalinya,” ujarnya.  

Gelombang baru pengumpulan tanda tangan anti-Falun Gong dilakukan bertepatan dengan intensifikasi umum upaya penganiayaan yang menargetkan siswa dalam beberapa tahun terakhir. Pada Maret 2023, Pusat Informasi Falun Dafa melaporkan pengumpulan tanda tangan di Wenzhou, China tenggara, yang ditujukan untuk anak-anak usia taman kanak-kanak dan orang tua mereka. Pembaruan fokus pada kaum muda ini mungkin mencerminkan prioritas PKC dalam mengindoktrinasi siswa. 

 “Penganiayaan terhadap Falun Gong dimulai hampir 25 tahun yang lalu, jauh sebelum banyak siswa saat ini lahir,” kata Browde. “Pengumpulan tanda tangan memperkenalkan generasi baru ini kepada propaganda palsu yang menjelekkan tentang Falun Gong, telah memicu kebencian terhadap para praktisi Falun Gong di antara segmen penting populasi China ini. Kampanye ini juga membuat mereka lebih takut pada para pengikut Falun Gong, untuk melaporkan mereka kepada pihak berwenang, dan untuk menghindari mengambil praktik tersebut pada saat banyak anak muda menunjukkan minat baru pada hal-hal spiritualitas.” 

Mengapa ini penting? 

Pengumpulan tanda tangan ini adalah contoh terbaru dari rezim yang menginvestasikan sumber daya besar-besaran untuk upaya memarginalkan dan menganiaya praktisi Falun Gong. Ini sesuai dengan temuan lain oleh Pusat Informasi Falun Dafa yang mengungkapkan bahwa Falun Gong telah menjadi prioritas yang bahkan lebih tinggi untuk upaya keamanan politik PKC daripada sebelumnya, menurut komentar oleh pejabat tinggi dan pemerintah daerah sejak 2020. 

Selain itu, taktik yang digunakan PKC dan rekomendasi spesifik bagi penandatangan petisi untuk menolak materi yang disebarluaskan oleh para pengikut agama menunjukkan bagaimana aparat keamanan berusaha untuk mengikuti kampanye akar rumput tingkat nasional. Pengikut Falun Gong sendiri berusaha untuk melawan propaganda demonisasi rezim, menyangkal kebohongan, dan mengungkap pelanggaran hak asasi manusia. 

Banyak materi yang disebarluaskan oleh praktisi Falun Gong tidak hanya terkait dengan praktik tersebut, tetapi juga dengan sejarah yang lebih luas dari PKC dalam menganiaya secara brutal puluhan juta rakyat China. Gerakan global yang dimulai oleh para praktisi seperti “Tuidang”, yang diterjemahkan menjadi “Keluar dari PKC”, telah dikabarkan menginspirasi ratusan juta warga Tiongkok untuk secara terbuka menjauhkan diri dan mundur dari keanggotaan PKC dan organisasi pemuda, meskipun ada yang menggunakan nama samaran untuk keselamatannya. 

Memang benar, isi dan parameter kampanye petisi terbaru rezim tersebut secara tidak langsung tampak mengakui potensi dan efektivitas dalam upaya pendidikan publik praktisi Falun Gong. 

(Sumber: faluninfo.net) 

Berita Terkait