Misteri Sumber Air Tawar di Dasar Laut

adilnews | 13 March 2024, 16:39 pm | 68 views

Bagi mereka yang gemar menonton program ‘Discovery’ pasti akan mengenali Jacques Yves Costeau (11 Juni 1910 – 25 Juni 1997). Ia tak lain adalah perwira Angkatan Laut, seorang Oceanografer dan penyelam yang terkemuka dari Perancis. Costeau sempat menjadi peneliti serta anggota Académie française. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya telah menyelam sejumlah dasar lautan di seluruh dunia. Dia dan timnya suka membuat film dokumentar tentang keindahan alam di dasar laut.

 

Cousteau bersama Emile Gagnan mungkin yang telah membuka mata manusia pada dunia bawah air. Mereka menciptakan alat pernafasan bawah air yang dikenal sebagai paru-paru air Aqua-Lung (SCUBA). Sebelumnya, penyelam terpaksa mengenakan pakaian yang mempunyai saluran udara yang bersambung dengan permukaan air. Itu justru menghambat pergerakan mereka. Aqua-Lung membuat penyelam bisa bergerak bebas.

Jacques Costeau juga ahli dalam teknik penggambilan gambar bawah air yang digunakan olehnya untuk menghasilkan film dokumenter mengenai kehidupan di sana. Film-filmnya membuka mata orang banyak mengenai adanya keragaman kehidupan di bawah air. Di sepanjang hidupnya, Cousteau telah menghasilkan 115 film dokumenter, serta menulis 50 buku yang semuanya berkaitan dengan dunia bawah laut.

Sebagai ilmuwan yang sangat mencintai alam; kelautan pada khususnya ia pun mendirikan Cousteau Society lalu disusul dengan Cousteau Foundation yang semuanya berkonsentrasi pada masalah pelestarian laut. Pada tahun 1990 organisasinya tersebut berhasil meng-golkan kampanye penyelamatan Antartika dari eksploitasi mineral, sehingga benua tak bertuan ini pun dilindungi oleh PBB dari segala bentuk eksploitasi pihak manapun setidaknya hingga 50 tahun mendatang.

Banyak pengalaman menarik yang diperoleh Jacques Costeau selama menyelam di dasar laut. Pada suatu hari ketika sedang menjelajahi dasar laut, ia menemui adanya kumpulan mata air tawar yang segar dan sangat murni rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin disekitarnya. Seolah-olah ada dinding atau penyekat yang membatasi antara mata air tawar dan air asin di dasar laut tersebut. Sepertinya air tawar memiliki sirkulasi sendiri menembus dasar lautan yang airnya asin.

Fenomena ganjil itu membuatkan Costeau merasa kagum, dan mendorongnya untuk mencari jawaban penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah kedalaman dasar laut. Pada mulanya, dia berfikir jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khayalan sewaktu menyelam di dasar laut. Setelah kejadian itu, dia terus berusaha mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang misteri sumber air tawar tersebut. Sampai akhir hayatnya, ia pun belum memperoleh jawaban yang tepat.

Meski pihak keluarga meluruskan berita penemuan sungai bawah laut di Cenote Angelita yang dianggap bukanlah dilakukan oleh kelompok Cousteau Foundation, keberadaan air tawar di bawah laut yang beredar di media itu ada benarnya.

Air Laut & Air Tawar Tak Bercampur

Di selat Gibraltar, ada fenomena dua laut yang berbeda warna, tidak dapat bersatu yang bisa dijelaskan secara sains. Salah satu dari dua warna laut tersebut ialah memiliki kandungan air tawar. Selat Gibraltar merupakan pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik. “Kami mempelajari pernyataan peneliti tertentu tentang penghalang yang memisahkan lautan dan mengamati bahwa Laut Mediterania memiliki salinitas dan kerapatan yang berbeda serta menjadi tempat hunian bagi flora dan fauna yang khas dari tempat itu,” jelas Cousteau.

Lebih lanjut Cousteau mengatakan, pihaknya meneliti air di Samudera Atlantik dan menemukan sifat yang sama sekali berbeda dengan Laut Mediterania. Awalnya mereka mengira kedua laut yang bertemu di Selat Gibraltar mestinya menunjukkan sifat yang serupa dalam salinitas, kerapatan, dan sifat-sifat lainnya. Namun, kedua laut itu menunjukkan sifat berbeda walaupun keduanya berdampingan. Hal tersebut sangat mengherankan. “Sebuah tabir ajaib mencegah keduanya bercampur. Tabir serupa juga diamati di Bab Al Mandab di Teluk Aden yang bertemu dengan Laut Merah,” tambahnya.

Ada pandangan fenomena bertemunya dua air laut namun tidak saling bercampur ini disebabkan karena gaya fisika yang disebut ‘tegangan permukaan’. Para ahli kelautan menemukan bahwa air dari laut-laut yang bersebelahan memiliki perbedaan massa jenis. Karena perbedaan massa jenis ini, tegangan permukaan mencegah dua lautan untuk saling bercampur, seolah-olah terdapat dinding tipis yang memisahkan keduanya.

Pandangan lainnya, faktor penyebab dua laut yang airnya tidak menyatu adalah perbedaan salinitas, suhu, kerapatan air, massa jenis, dan adanya tegangan permukaan. Perbedaan salinitas Salintas adalah tingkat keasinan atau suatu kadar garam terlarut dalam air. Kadar garam pada air di Laut Mediterania lebih tinggi dibanding air di Samudra Atlantik. Tinggi dan rendahnya salinitas dipengaruhi oleh besar kecil penguapan, tinggi rendahnya air hujan, sedikit banyaknya sungai yang berakhir di lautan, dan ada tidaknya gletzer yang mencair di wilayah tertentu.

Adanya perbedaan kadar garam juga menunjukkan perbedaan kerapatan banyaknya ion-ion negatif dan positif dalam air laut. Perbedaan suhu Laut Mediterania mempunyai suhu 11,5ºC, sedangkan air di Samudra Atlantik bersuhu 10ºC. Meskipun perbedaan tersebut tidak terlalu jauh, namun ternyata dapat menjadi faktor pemisah keduanya.

Tinggi dan rendahnya suhu air laut ditentukan oleh kecil besarnya panas matahari, letak geografis laut, kedalaman laut, dan kondisi angin yang memengaruhi permukaan air laut. Tetapi amplitudo suhu harian dan suhu tahunan di daerah perairan laut relatif kecil, artinya suhu yang dimiliki air alut di daerah tertentu selalu konstan sepanjang waktu.

Perbedaan kerapatan airnya Densitas atau kerapatan air laut dipengaruhi oleh salinitas atau kadar garam suatu perairan. Makin tinggi kadar garam yang dimiliki suatu larutan, maka makin besar juga densitasnya.

Dengan salinitas yang berbeda, maka Laut Mediterania dan Samudra Atlantik memiliki kerapatan air yang berbeda juga. Air di Laut Mediterania memiliki kerapatan yang lebih tinggi dibanding air di Samudra Atlantik. Karena adanya perbedaan densitas tersebut, maka timbul tegangan permukaan yang mencegah dua lautan bercampur, sehingga seolah-olah dipisahkan oleh dinding tipis. (Fadjar)

Perbedaan massa jenis. Dalam ilmu fisika, massa jenis air disebut sebagai massa zat air per-satuan volumenya. Ukuran massa jenis ini sendiri disebut sebagai ciri khas yang membedakan suatu zat yang satu dengan zat lainnya. Air sendiri disebut sebagai zat yang murni, oleh karena itu nilai massa jenis air sendiri bisa dipenggaruhi oleh temperatur zat tersebut. Karena adanya perbedaan suhu, salinitas dan densitas yang besar, sehingga menyebabkan perbedaan massa jenis di antara kedua air laut tersebut.

Perbedaan massa jenis tersebut lah yang menyebabkan air di Laut Mediterania tidak dapat menyatu dengan air di Samudra Atlantik. Perbedaan suhu, salinitas, dan densitas yang terjadi menyebabkan adanya perbedaan tegangan kedua permukaan aliran air. Tegangan permukaan terjadi karena adanya gaya tarik-menarik antara partikel atau molekul sejenis sebagai akibat peristiwa kelistrikan sehingga seolah-olah terdapat pembatas yang memisahkan antara kedua laut tersebut.

Selain itu, adanya partikel-partikel ion positif dan negatif dalam air tersebut, akan memberikan pengaruh yang besar terhadap sifat terbentuknya lapis batas antara permukaan dua air tersebut.

Berita Terkait