
Sejauh ini ekonomi China belum menunjukan tanda-tanda recovery dalam waktu dekat. Dalam pidatonya menyambut tahun baru 2024, Presiden China Xi Jinping sendiri mengakui ekonomi negaranya sedang dalam keadaan sulit sejak menjabat pada 2013 lalu. Hal ini ditandai dengan pelemahan dunia bisnis dan sulitnya warga mendapat pekerjaan.
Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini memang tengah berada di masa kritis dan sedang bergulat dengan perlambatan struktural yang ditandai dengan pelemahan daya beli, meningkatnya pengangguran, larinya investor asing, serta kepercayaan bisnis yang terpuruk.
Menanggapi kelesuan ekonomi China tersebut, pengamat ekonomi dari Universitas Paramadina Jakarta, Muhamad Ikhsan usai acara Forum Sinologi Indonesia di Jakarta belum lama ini memastikan butuh waktu untuk pemulihannya.
“China sedang melakukan shifting ekonominya, dari tadinya berbasis investasi sekaramg berbasis konsumsi. Nah ekonomi berbasis konsumsi ini dibutuhkan adanya suatu trust pada pemerintah dan juga trust pada pasar. Ini penting sekali, karena trust pada pemerintah ini menurut banyak kalangan itu agak berkurang kan, seperti penanganan covid, penanganan dengan lockdown, yg berbeda dengan ukuran-ukuran penanganan di belahan dunia lain. Memang butuh waktu tapi saya rasa dalam jangka panjang China tetap menarik. Tidak akan dilupakan. Karena pasar yg besar, sumber daya manusianya juga berlimpah, dan juga kekuatan vitalitas dari perusahaan2 China itu sendiri,” jelas Muhamad Ikhsan yang juga aktif di Paramadina Public Policy Institute
Bagi Muhamad Ikhsan tekanan dari Amerika Serikat selama ini terhadap China dalam bentuk decoupling ekonomi seperti peningkatan tarif masuk import produk dari China, pembatasan ekspor chip atau semi conductor dan sebagainya tidak terlalu berpengaruh besar terhadap krisis ekonomi China. Namun diakuinya keseimbangan baru ekonomi China akan ditentukan dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini
Ikhsan sendiri mengakui decoupling ekonomi dari AS itu suatu ancaman buat China. Namun dari sisi lain ia merasa bahwa ekonomi China sudah terintegrasi dengan ekonomi dunia, jadi ia merasa decoupling yang dilakukan AS itu sulit dilakukan, maksudnya efektif berpengaruh. Menurut Ikhsan justru yang paling mungkin berpengaruh adalah derisking. Jadi perusahaan-perusahaan di luar China berusaha mengurangi ketergantungan terhadap suply, terhadap pasar, tapi pada dasarnya itu merupakan fenomena sortterm, dalam artian jangka pendek.
“Memang akan ada menuju keseimbangan baru, nanti yg menentukan adalah Pemilu AS yang tahun depan (2024), siapa yang akan terpilih, apakah Donald Trump atau Jpe Boden lagi. Kalau Joe Biden tentu akan statusquo. Kalau Donald Trump akan berubah, mungkin dia akan lebih keras perang dagang atau apa yg dia lakukan. Jadi menurut saya, kita hidup di masa yg tidak mudah terutama bagi temen-temen yang ada di China. Ada penyesuaian-penyesuaian ini, tentu butuh ketangguhan dari pemerintah untuk merumuskan policy yg sesuai. Untuk mengatasi tantangan-tantangan yang sifatnya eksternal, selain itu juga mengatasi problem-problem yang sifatnya internal,” pungkas Ikhsan. (Fadjar)
