Ir. KPH. Adipati, Bagas Pujilaksono Widyakilanigara Hamengkunegara, M.Sc., Lic.Eng., Ph.D.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Seniman/Budayawan Yogyakarta
Pertama, saya sampaikan keperihatinan yang mendalam atas terjadinya demonstrasi anarkis, penjarahan, dll.
Yang anarkis bukan hanya pendemo, aparat juga anarkis, mbah buyutnya anarkis!
Hal ini jelas mengurangi esensi dari demonstrasi itu sendiri, sebagai sebuah gerakan moral.
Saya tidak percaya omongannya Hendro Priyono, bahwa Demonstrasi Anarkis yang terjadi baru-baru ini diduga dalangnya dari luar Indonesia alias pihak asing, yang tidak ingin Indonesia bangkit. Mbell. Nggedebus. Ini gaya lama, mencari kambing hitam.
Argument-argument lain, tidak masuk akal, atau paling tidak perlu pembuktian.
Besides, ngapain cari dalangnya, faktanya tidak pernah ada tindak lanjut?
Tidak pernah pernah paham permasalahan secara utuh, gagal membangun sistem yang koordinatif dan gagal membangun sistem yang sustainable. Ini biangkeroknya! Dalangnya orang Indonesia sendiri.
Seruan moral dari orang-orang tak bermoral adalah kontributor utama terjadinya kekacauan di negeri ini.
Kekacauan di Indonesia akhir-akhir ini, bukan hanya soal demonstrasi anarkis. Ini hanya upil.
Ketidakadilan, kemiskinan dan ketimpangan sosial adalah driving force munculnya suasana chaos.
Itulah suasana kebatinan bangsa Indonesia saat ini. Pemerintah tidak peduli. Sibuk membangun konglomerasi politik untuk sebuah hegemoni kekuasaan, daripada berfikir dan berbuat nyata untuk kesejahteraan rakyat.
Sudah seperti itu kondisinya, muncul pejabat-pejabat tolol mulut dobol, bicara asal mangap tanpa otak.
Jangan sebut-sebut rakyat jelata. Sangat menyakitkan. Bagi kaum Marhaenis, kita semua rakyat jelata/proletar yang berjalan lewat jembatan emas menuju kehidupan yang utopis.
Bicara etika dan moralitas, disaat dia sendiri gagal jadi manusia yang beretika dan bermoral. Nggamblèh!
Bicara persatuan dan kesatuan bangsa, disaat dirinya selalu bermain di ranah politik partisan, alias begundal/jongos kekuasaan. Persatuan dan kesatuan bangsa? Bullshit!
Ini sebuah akumulasi kekecewaan rakyat Indonesia yang panjang, bukan sehari dua hari.
Sekali lagi, sumber kekacauan di negeri ini adalah orang-orang tak bermoral yang menyerukan Etika dan Moralitas.
Pesan Demonstrasi
Demonstrasi besar-besaran di tanah air, pesannya sbb:
1. Jadi pejabat negara hati-hati kalau mbacot jangan asal mangap dan otak dipakai. Rakyat dibilang tolol, padahal beredar ijazah SMP miliknya yang nilainya amburadul. Siapa yang tolol? Pejabat mulut sampah!
2. Pejabat negara harus memberi contoh hidup sederhana. Bukan malah foya-foya makan uang tunjangan dari negara, disaat rakyat hidup miskin sengsara. Mana rasa keadilan? Punya rasa malu tidak?
3. Polri jangan lagi memainkan rasa keadilan di tengah masyarakat. Otherwise, rakyat akan melumatmu habis.
4. Saya mondar-mandir di jalan raya Jogja, tidak melihat polisi satupun. Takut sama rakyat? Polisi itu alat negara, begundal/jongos rakyat, bukan begundal kekuasaan.
5. Polri harus mengedepankan persuasif dan dialog, bukan main tabrak pakai rantis. Berani tidak tabrak koruptor? Berani tidak tembak koruptor?
6. Listyo Sigit Prabowo tidak usah menunggu dipecat Prabowo. Tanya saja ke rakyat, apakah rakyat masih menerima keberadaannya sebagai Kapolri? Banyak alumni Akpol yang jauh lebih hebat dari Listyo Sigit Prabowo. Jangan halang-halangi proses regenerasi di tubuh Polri. Mundur!
7. Korupsi di Indonesia harus segera dibabat habis. Indonesia darurat korupsi. Korupsi membuat rakyat jadi miskin. Angka kemiskinan utamanya disumbang dari tingginya angka korupsi di Indonesia. Prabowo jangan omon-omon saja dan gebrak-gebrak tak ada guna. Do something!
8. Keadilan, kemiskinan dan kesenjangan sosial harus diperjuangkan secara serius, konsisten dan berkesinambungan. Indonesia negara Pancasila, bukan negara kapitalis.
9. Membangun Indonesia dari bawah. Apapun kondisinya, rakyat paling bawah survive. Yang terjadi saat ini, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin sengsara.
10. Guru bukan beban negara. Guru adalah aset negara. Pasca jatuhnya bom nuklir di Nagasaki dan Hirosima, Kaisar Hirohito menanyakan: masih tersisa berapa guru-guru di Jepang. Wajar Jepang maju. Guru beban negara? Ndhasmu!
11. Tidak semua proses pembangunan harus dikomersial dan diliberalkan. Ada beberapa yang tetap sebuah investasi tak terhenti, contoh: sektor pendidikan.
12. *Yang kau rampas dari rakyat, rakyat akan mengambilnya kembali*.
Merdeka!

